Anggrek Bulan Putih Si Bunga Nasional

Dibandingkan dengan dendrobium, vanda atau cattleya, anggrek bulan memang kalah populer. Tapi kalau kita bicara tentang keindahannya, sebenarnya anggrek bulan berani bersaing. Daun mahkotanya yang berbentuk bundar melebar berpangkal kecil dan berujung agak tumpul itu warnanya putih cemerlang. Di bagian tengah bunga yang lazim disebut bibir itu mencuatlah dua sulur kuning pucat yang semakin kedalam nampak semakin tua lalu berubah menjadi garis-garis yang semarak kemerahan. Dalam keadaan yang baik, tandan anggrek bulan dapat mencapai panjang  sampai hampir 1 meter dengan jumlah kuntum sekitar 25. Masing-masing kuntum yang nampak cemerlang sangat menyolok dengan latar belakang daun yang hijau gelap itu, garis tengahnya dapat mencapai lebih dari 10 cm. Anggrek ini termasuk jenis anggrek epifit. Hidupnya menempel atau lebih tepat menumpang dikulit pohon-pohon raksasa di belantara negeri tropis kita.  Dia dapat tumbuh baik diketinggian antara 50-600 meter diatas permukaan laut. 

Barangkali kaarena pesonanya yang anggun itulah maka PAI (Perhimpunan Anggrek Indonesia) dalam Kongres serta Seminarnya yang ke 6 di Surabaya 23-26 November 1983 telah menetapkan anggrek bulan putih sebagai bunga nasional. Di luar negeri, bunga nasional memang tidak pernah ditetapkan dengan undang-undang, peraturan pemerintah atau keputusan-keputusan formal lainnya, tapi berdasarkan pengakuan masyarakat. Bunga tulip misalnya. Begitu kita dengar namanya atau melihat gambarnya, secara otomatis pikiran kita akan melayang ke negeri Belanda. Demikian pula halnya dengan bunga sakura. Langsung ingatan kita tertuju ke Jepang. Tapi anggrek bulan ? Tentu masih perlu waktu lama untuk menjadikannya seperti tulip atau sakura. Yang jelas, karena sudah terlanjur dijadikan bunga nasional, ada baiknya jika kita mengenal lebih jauh atau syukur kalau ada yang minat membudidayakannya. 

Dibandingkan dengan Cattleya, anggrek bulan memang terhitung tidak seberapa mahal. Tapi kalau kita membeli yang sudah jadi, lebih-lebih yang sudah lengkap dengan kuntum bunganya, tak ayal puluhan ribu rupiah bakal melayang dari kantung kita. Yang lebih murah tentunya kalau kita membeli yang masih kecil-kecil dan masih perlu perawatan lama untuk melihat keindahan bunganya. Sayang bahwa tanaman anggrek bulan yang belum jadi ini jarang sekali kita temui di pasar bunga anggrek seperti di Senayan, Slipi atau Ragunan, di Jakarta. Soalnya yang banyak dicari-cari konsumen, biasanya memang dendrodium, kemudian menyusul vanda serta cattleya.  Tapi kalau kita mau yang lebih murah dan mudah mendapatkannya, belilah bibit botolan. Bibit botolan anggrek bulan di Jakarta dapat dijumpai di Stand Anggrek Senayan, Taman anggrek Slipi atau Ragunan. Harga per botol bervariasi antara Rp 3.500 sampai dengan Rp 5.000. Satu botol biasanya hanya berisi sekitar 10-15 bibit tanaman, jauh lenih kecil dari pada dendrobium yang sebotolnya berisi sekitar 20-25 tanaman 

Berlainan dengan dendrobium atau cattleya yang selepas dari botol dan pot koloni terus kita tancap di pot tunggal, maka anggrek bulan biasanya selepas dari pot koloni ki tanam di bilah-bilah akar pakis (paku pohon). Yang perlu kami tekankan disini adalah soal pemupukan. Semua anggrek bulan termasuk anggrek bulan putih  tergolong sangat peka terhadap kelebihan dosis pemupukan. Jadi begitu kita sedikit royal memberikan pupuk, akan segera nampak daun-daunnya hancur membusuk. Lebih-lebih pada saat-saat tanaman baru keluar dari botol. Selain lazim ditanam di bilah-bilah papan akar pakis, anggrek bulan bisa di taruh dibatang pohon, terutama di pohon yang cukup rindang seperti kelengkeng. Caranya dengan mengikatkannya sementara dengan tali atau memakukannya di batang pohon tersebut. Nanti setelah akar anggrek telah menempel kuat-kuat di kulit pohon, tali bisa kita lepas dan nampaklah anggrek tumbuh seperti di alam aslinya. 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.